Tafsir Surah Al Baqarah Ayat 233-239

Seorang mukmin hendaknya tidak melupakan sikap ihsan ini meskipun hanya dalam waktu-waktu tertentu, karena Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.

[28] Dia mendorong kamu untuk mengerjakan yang ma’ruf dan perbuatan utama.

[29] Imam Ahmad meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Zhuhur di siang hari yang panas, dan Beliau tidaklah melakukan shalat yang paling berat bagi para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam daripadanya, maka turunlah ayat, “Haafizhuu ‘alash shalawaati wash shalaatil wusthaa” Beliau bersabda, “Sesungguhnya sebelumnya (yakni sebelum shalat wustha) ada dua shalat dan setelahnya ada dua shalat.” (Hadits ini para perawinya adalah para perawi kitab shahih selain ‘Amr bin Abi Hakim dan Az Zabarqaan, namun keduanya tsiqah. Terkadang Az Zabarqaan meriwayatkan dari Urwah dari Zaid bin Tsabit dan terkadang ia meriwayatkan dari Zahrah dari Zaid bin Tsabit dan terkadang meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit dan Usamah. Thabrani juga meriwayatkan dalam Al Kabir juz 5 hal. 131 dari jalan Utsman bin ‘Affan Al Ghathfaaniy) yang dipegang tentang tafsir shalat wustha adalah shalat ‘Ashar sebagaimana dalam shahihain.

[30] Memelihara di ayat ini adalah mengerjakannya pada waktunya, terpenuhi syarat, rukun, khusyu’, hal yang wajib maupun sunahnya. Menjaga shalat dapat membantu menjaga ibadah yang lain serta dapat mencegah diri dari perbuatan keji dan munkar, terlebih apabila seseorang mengerjakannya dengan sempurna.

[31] Shalat wusthaa ialah shalat yang di tengah-tengah dan yang paling utama. Ada yang berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan shalat wusthaa ialah shalat Ashar. Ayat ini menekankan agar semua shalat itu dikerjakan dengan sebaik-baiknya.

[32] Ada yang mengartikan “qaanitin” di ayat tersebut dengan “diam; tidak berbicara” berdasarkan hadits Zaid bin Arqam ia berkata, “Kami terkadang berbicara ketika shalat, sampai turun ayat yang memerintahkan kami untuk diam dan melarang kami berbicara.” (HR. Bukhari dan Muslim) Pembicaraan mereka ketika shalat misalnya menjawab salam, menjawab orang yang bertanya dsb. Thabrani meriwayatkan dalam Al Kabir dari Simak dari dari Ikrimah dari Ibnu Abbas tentang firman Allah Ta’ala, “Wa Quumuu lillahi qaanitiin” ia berkata: “Dahulu para sahabat berbicara ketika shalat, ada pembantu seseorang yang datang ketika ia sedang shalat lalu membicarakan keperluannya, kemudian mereka pun dilarang berbicara.” (Abu ‘Abdirrahman berkata, “Hadits tersebut dari jalan Simak dari Ikrimah. Riwayat Simak dari Ikrimah terdapat kemudhthariban.” Akan tetapi hadits tersebut hanya sebagai syahid saja).

, , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *