Tafsir Surah An Nahl Ayat 97-110

[9] Yakni tidak mengetahui tentang Tuhan mereka yang Mahabijaksana dan syari’at-Nya serta faedah naskh.

[10] Jibril disebut rohulkudus, karena Dia bersih dari aib, khianat, dan penyakit.

[11] Yakni turunnya benar-benar dari sisi Allah, di dalamnya mengandung kebenaran, baik pada beritanya, perintah maupun larangannya. Jika telah diketahui, bahwa Al Qur’an adalah kebenaran, maka berarti sesuatu yang bertentangan atau berlawanan dengannya adalah batil.

[12] Oleh karena kebenaran senantiasa sampai ke dalam hati mereka sedikit demi sedikit, maka iman mereka akan semakin kokoh bagai gunung kokoh yang menancap. Di samping itu, dengan turunnya ayat sedikit-demi sedikit, maka lebih siap diterima oleh jiwa daripada turun secara sekaligus yang seakan-akan mereka menerima banyak beban. Oleh karena itulah, dengan Al Qur’an keadaan para sahabat berubah; akhlak, tabi’at, kebiasaan dan amal mereka berubah sampai mengalahkan orang-orang terdahulu dan yang akan datang kemudian. Maka dari itu, sepatutnya generasi yang datang setelah para sahabat terdidik di atas ilmu-ilmu yang ada dalam Al Qur;an, berakhlak dengan akhlaknya, menggunakannya sebagai penerang dalam gelapnya kesesatan dan kebodohan, ehingga dengannya urusan agama dan dunia mereka menjadi baik.

[13] Yang menunjukkan kepada mereka hakikat segala sesuatu, menerangkan mana yang benar dan mana yang batil, mana petunjuk dan mana kesesatan.

[14] Yang memberikan kabar gembira kepada mereka, bahwa mereka akan memperoleh kebaikan, yaitu surga dan mereka akan kekal di sana selama-lamanya.

[15] Ibnu Jarir berkata: Telah menceritakan kepadaku Al Mutsanna, ia berkata, “Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin ‘Aun.” Ia berkata, “Telah mengabarkan kepada kami Hasyiim dari Hushain, yaitu Ibnu Abdirrahman dari Abdullah bin Muslim Al Hadhramiy, bahwa mereka (sebagian Bani Hadhrami) memiliki dua orang budak dari penduduk selain Yaman. Keduanya masih kecil, yang satu bernama Yasar, sedangkan yang satu lagi bernama Jabr. Keduanya suka membaca Taurat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang duduk dengan keduanya, lalu orang-orang kafir Quraisy berkata, “Beliau duduk dengan keduanya adalah untuk belajar dari kedua anak itu.” Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menurunkan firman-Nya, “Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa Muhammad belajar) kepadanya bahasa ‘Ajam, sedangkan Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang jelas.” Syaikh Muqbil berkata, “Hadits ini para perawinya adalah para perawi hadits shahih selain Al Mutsanna, yaitu Ibnu Ibrahim Al Amiliy. Saya tidak menemukan orang yang menyebutkan biografinya. Akan tetapi, ia dimutaba’ahkan oleh Sufyan bin Waki’, dan di sana terdapat pembicaraan. Adapun Hasyim, dia adalah Ibnu Basyir seorang mudallis dan tidak menyebutkan secara tegas kata “haddatsanaa (telah menceritakan kepada kami)”, akan tetapi ia dimutaba’ahkan oleh Khalid bin Abdullah Ath Thahhan dan Muhammad bin Fudhail. Dari sinilah, Al Haafizh dalam Al Ishaabah setelah menyebutkan hadits ini berkata, “Demikian pula hadits setelahnya dengan sanad hadits ini, dan sanadnya shahih.” (Juz 2 hal. 439). Tentang nama sahabat yang meriwayatkan hadits ini diperselisihkan, menurut Ibnu Jarir adalah Abdullah bin Muslim, menurut Ibnu Abi Hatim dalam Al Jarh wat Ta’dil adalah Ubaidullah bin Muslim, dalam At Tahdzib seperti dalam Al Jarh wat Ta’dil, di sana disebutkan, “Dan disebut pula Abdullah.” Al Hafizh telah mengisyaratkan tentang adanya perselisihan ini dalam Al Ishabah juz 2 hal. 439. Syaikh Muqbil juga berkata, “Hadits ini memiliki syahid (penguat dari jalan lain) dari hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Hakim rahimahullah berkata (dalam Al Mustadrak) juz 2 hal. 357: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Al Hasan bin Ahmad Al Asadiy di Hamdan. Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Husain. Telah menceritakan kepada kami Adam bin Abi Iyas. Telah menceritakan kepada kami Warqa’ dari Ibnu Abi Najiih dari Mujahid dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Sesungguhnya Al Quran itu hanya diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad).” Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa Muhammad belajar) kepadanya bahasa ‘Ajam, sedangkan Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang jelas.” Mereka (orang-orang musyrik) berkata, “Sesungguhnya yang mengajarkan Muhammad adalah budak Ibnul Hadhrami; seorang yang suka membaca kitab-kitab.” Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, “Sesungguhnya Al Quran itu hanya diajarkan…dst.” Hadits ini shahih isnadnya, namun keduanya (Bukhari-Muslim) tidak menyebutkannya. Lihat Ash Shahihul Musnad Min Asbaabin Nuzuul karya Syaikh Muqbil

, , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *