Tafsir Surah Ash Shaaffaat Ayat 83-113

[29] Yakni dalam beribadah kepada Allah dan mengutamakan keridhaan-Nya daripada keinginan hawa nafsunya.

[30] Maksudnya, dengan ujian tersebut jelaslah kebersihan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, sempurnanya cintanya kepada Tuhannya. Hal itu, karena ketika Allah menganugerahkan Nabi Ismail ‘alaihis salam kepadanya, maka Nabi Ibrahim sangat cinta sekali kepada anaknya, sedangkan Beliau adalah kekasih Allah, dan kekasih adalah kecintaan paling tinggi yang tidak menerima adanya keikutsertaan. Saat hati Nabi Ibrahim terpaut oleh cinta kepada anaknya, Allah Subhaanahu wa Ta’aala hendak membersihkan cinta Nabi Ibrahim dan menguji sejauh mana cintanya kepada Allah, maka Allah memerintahkan Ibrahim menyembelih anaknya yang Beliau cintai karena berbenturan dengan kecintaan kepada Tuhannya. Ketika ternyata, Beliau lebih mengutamakan kecintaan Allah dan mengedepankannya di atas hawa nafsunya, dan telah bertekad menyembelih puteranya, maka penyembelihan tidak ada lagi faedahnya, karena sudah jelas cintanya kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

[31] Setelah nyata kesabaran dan ketaatan Ibrahim dan Ismail ‘alaihimas salam, maka Allah melarang menyembelih Ismail dan untuk melanjutkan korban, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan (kambing). Peristiwa ini menjadi dasar disyariatkannya Qurban yang dilakukan pada hari raya haji. Kambing tersebut dikatakan ‘azhim (besar) karena sebagai tebusan bagi Ismail, dan karena dalam ibadah yang agung, yaitu ibadah kurban, dan karena ia menjadi sebuah sunnah yang berlaku sepanjang zaman sampai hari Kiamat.

[32] Nabi Ibrahim rela dikucilkan oleh kaumnya karena mencari keridhaan Allah, sampai Beliau berhijrah dan telah teruji keimanannya, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala membalas Beliau di dunia dan akhirat dengan balasan yang besar. Contoh balasan yang Allah berikan untuknya di dunia adalah tidak ada satu waktu pun berlalu sepeninggal Nabi Ibrahim kecuali Beliau dimuliakan, dipuji, disebut kebaikannya dan dikenang oleh manusia setelahnya sampai sekarang dan seterusnya.

[33] Baik dalam beribadah maupun dalam bergaul dengan manusia, di mana ia berusaha memilih yang terbaik untuk mereka.

[34] di mana imannya telah mencapai derajat yakin.

, , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *