Tafsir Surah Az Zumar Ayat 68-75

[9] Yakni dihadirkan untuk ditanya tentang tabligh (penyampaian mereka); apakah mereka telah menyampaikan atau belum, dan untuk ditanya pula tentang umat-umat mereka, dan mereka (para rasul) akan memberikan kesaksian terhadap sikap kaumnya, apakah mereka beriman atau malah mendustakan. Lalu para nabi tersebut diminta untuk mendatangkan saksi, maka mereka mengangkat umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai saksi sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَجِيءُ النَّبِيُّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالنَّبِيُّ وَمَعَهُ الرَّجُلَانِ وَأَكْثَرُ مِنْ ذَلِكَ فَيُدْعَى قَوْمُهُ فَيُقَالُ لَهُمْ هَلْ بَلَّغَكُمْ هَذَا فَيَقُولُونَ لَا فَيُقَالُ لَهُ هَلْ بَلَّغْتَ قَوْمَكَ فَيَقُولُ نَعَمْ فَيُقَالُ لَهُ مَنْ يَشْهَدُ لَكَ فَيَقُولُ مُحَمَّدٌ وَأُمَّتُهُ فَيُدْعَى مُحَمَّدٌ وَأُمَّتُهُ فَيُقَالُ لَهُمْ هَلْ بَلَّغَ هَذَا قَوْمَهُ فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيُقَالُ وَمَا عِلْمُكُمْ فَيَقُولُونَ جَاءَنَا نَبِيُّنَا فَأَخْبَرَنَا أَنَّ الرُّسُلَ قَدْ بَلَّغُوا فَذَلِكَ قَوْلُهُ{ وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا } قَالَ يَقُولُ عَدْلًا{ لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Akan datang seorang nabi pada hari Kiamat dengan pengikutnya seorang, ada pula nabi yang pengikutnya dua orang dan ada yang lebih dari itu, lalu dipanggil kaumnya, “Apakah nabi ini telah menyampaikan (risalahnya) kepada kalian?” Mereka menjawab, “Belum.” Lalu nabi itu ditanya, “Apakah kamu telah menyampaikan (risalahmu) kepada kaummu?” Ia menjawab, “Ya (sudah).” Lalu dikatakan kepadanya, “Siapa saksimu?” Ia menjawab, “Muhammad dan umatnya.” Lalu dipanggillah Muhammad dan umatnya dan mereka ditanya, “Apakah nabi ini telah menyampaikan (risalahnya) kepada kaumnya?” Mereka menjawab, “Ya.” Lalu mereka ditanya, “Dari mana kamu tahu?” Mereka menjawab, “Telah datang Nabi kami kepada kami dan memberitahukan bahwa para rasul semuanya telah menyampaikan.” Itulah maksud (ayat), “Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang adil dan pilihan.” Yakni yang adil. Agar kamu menjadi saksi atas manusia dan rasul menjadi saksi atasmu.” (HR. Ahmad). Ayat yang disebutkan dalam hadits tersebut adalah ayat 143 surah Al Baqarah.

[10] Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya menjadi saksi bahwa para rasul semuanya telah menyampaikan risalahnya.

[11] Karena proses hisab tersebut berasal dari Tuhan yang tidak pernah dan tidak akan berbuat zalim seberat zarrah pun, di mana Dia meliputi segala sesuatu dan kitab-Nya, yakni Lauh Mahfuzh meliputi semua yang mereka kerjakan, para malaikat hafazhah telah mencatat apa yang mereka kerjakan, dan para saksi yang paling adil telah memberikan kesaksian, maka berdasarkan hal itu Tuhan yang mengetahui ukuran amal dan ukuran pahala atau siksa yang sesuai memberikan keputusan dengan keputusan yang membuat sejuk pandangan mata semua makhluk, membuat mereka mengakui bahwa Allah berhak dipuji dan Maha Adil, dan mereka pun mengetahui keagungan, ilmu, kebijaksanaan dan rahmat-Nya yang belum terlintas di hati mereka dan belum diungkapkan oleh lisan mereka. Oleh karena itu dalam ayat selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Dan kepada setiap jiwa diberi balasan dengan sempurna sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya dan Dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan.”

[12] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan keputusan-Nya yang adil di antara hamba-hamba-Nya, dimana Dia telah mengumpulkan mereka dalam penciptaan, rezeki dan pengaturan-Nya, dan mereka berkumpul di padang mahsyar sebagaimana mereka sebelumnya berkumpul ketika di dunia, maka Dia memisahkan mereka saat hendak diberikan balasan sebagaimana mereka berpisah di dunia karena alasan keimanan dan kekafiran, ketakwaan dan kemaksiatan.

[13] Yakni digiring dengan keras dengan cambuk yang menyakitkan oleh malaikat Zabaniyah yang keras dan kasar menuju penjara terburuk yang ada di alam semesta, yaitu neraka Jahanam yang menghimpun semua azab dan yang dimasuki oleh orang-orang yang celaka, dimana setelah memasukinya maka tidak ada lagi kesenangan dan kegembiraan. Mereka digiring dengan keras sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Pada hari mereka didorong ke neraka Jahannam dengan sekuat- kuatnya.” (Terj. Ath Thuur: 13) Hal itu karena mereka enggan memasukinya.

[14] Yakni mereka masuk ke neraka secara berombongan, masing-masing rombongan bersama rombongan yang sama dan sejenis amalnya, ketika itu satu sama lain saling laknat-melaknat dan saling berlepas diri.

, , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *