Tafsir Surah Fushshilat Ayat 25-36

[29] Yakni tidaklah sama antara mengerjakan kebaikan untuk mencari ridha Allah dengan mengerjakan keburukan yang mendatangkan kemurkaan-Nya, dan tidak sama antara berbuat baik kepada manusia dengan berbuat buruk kepada mereka, baik secara zat(perbuatan)nya, sifatnya maupun balasannya.

[30] Selanjutnya Allah memerintahkan secara khusus untuk berbuat ihsan, dimana ia memiliki kedudukan yang besar. Ihsan di sini adalah berbuat ihsan kepada orang yang berbuat buruk kepadanya.

[31] Misalnya marah disikapi dengan sabar, sikap bodoh dihadapi dengan santun, sikap mengganggu dengan memaafkan, pemutusan silaturrahmi dengan disambung, jika ia membicarakan kita di hadapan kita atau tidak di hadapan kita, maka kita tidak membalasnya, bahkan memaafkannya dan menyikapinya dengan kata-kata yang lembut. Ketika mereka menjauhi kita dan tidak mau berbicara dengan kita, maka kita mengucapkan kata-kata yang baik kepadanya serta mengucapkan salam.

[32] Yakni jika kamu melakukan hal itu (menyikapi keburukan dengan kebaikan), maka ada faedah yang besar, yaitu orang yang sebelumnya sebagai musuh menjadi teman akrab.

[33] Yakni mereka yang menahan diri terhadap hal yang tidak disukainya dan memaksa dirinya untuk mengerjakan hal yang dicintai Allah. Hal itu, karena jiwa diciptakan dalam keadaan ingin membalas keburukan dengan keburukan serta tidak mau memaafkan. Lalu bagaimana bisa berbuat ihsan? Jika seseorang berusaha menyabarkan dirinya, mengikuti perintah Tuhannya, mengetahui besarnya pahala dari-Nya, serta mengetahui bahwa membalasnya dengan perbuatan yang serupa tidaklah berfaedah apa-apa bahkan hanya menambah permusuhan, dan bahwa berbuat ihsan kepadanya tidaklah mengurangi kedudukannya, bahkan barang siapa yang bertawadhu’ karena Allah, maka Allah akan meninggikannya, maka semua urusannya akan mudah dan ia dapat melakukannya dengan senang hati dan merasakan manisnya.

[34] Hal itu, karena sifat-sifat itu hanyalah diberikan kepada makhluk-makhluk pilihan-Nya, dimana dengannya seorang hamba memperoleh ketinggian di dunia dan akhirat, dan yang demikian merupakan akhlak mulia yang paling besar.

, , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *