Tafsir Surah Al Fath Ayat 10-24

[6] Allah Subhaanahu wa Ta’aala mencela orang-orang yang meninggalkan Rasul-Nya dalam berjihad fii sabilillah dari kalangan orang-orang Arab badui yang lemah imannya, dimana dalam hati mereka ada penyakit, prsangka yang buruk kepada Allah Ta’ala, dan bahwa mereka akan meminta uzur kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa harta dan keluarga mereka membuat mereka sibuk sehingga tidak dapat ikut berjihad, dan bahwa mereka akan meminta agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memintakan ampunan untuk mereka.

[7] Yang tinggal di sekitar Madinah.

[8] Sehingga tidak bisa ikut bersamamu.

[9] Yakni mereka dusta dalam ucapannya, karena permintaan mereka agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memintakan ampunan untuk mereka seharusnya menunjukkan mereka menyesal, dan mengakui bahwa mereka berdosa, dan bahwa mereka telah melakukan perbuatan yang butuh diiringi dengan tobat dan istighfar. Kalau seandainya seperti ini yang ada dalam hati mereka, tentu istighfar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bermanfaat bagi mereka, karena mereka telah bertobat dan kembali, akan tetapi yang ada dalam hati mereka adalah bahwa mereka tidak ikut itu karena mereka berprasangka buruk kepada Allah. Mereka menyangka, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum mukmin tidak akan kembali lagi setelah itu kepada keluarganya selama-lamanya karena terbunuh, dan sangkaan ini telah terhias dalam diri mereka sehingga mereka tetap tidak mau ikut dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum mukmin. Sebabnya adalah karena dua hal: Pertama, mereka adalah kaum yang binasa, yakni tidak ada kebaikannya. Jika ada kebaikan dalam hati mereka, tentu tidak akan ada seperti ini dalam hati mereka. Kedua, lemahnya iman dan keyakinan mereka terhadap janji Allah, yaitu bahwa Dia akan memenangkan agama-Nya dan akan meninggikan kalimat-Nya.

[10] Karena terbunuh.

[11] Allah Subhaanahu wa Ta’aala yang sendiri memiliki kerajaan langit dan bumi, Dia bertindak pada keduanya dengan apa yang Dia kehendaki berupa hukum-hukum qadari, hukum-hukum syar’i, dan hukum-hukum jaza’i (balasan). Oleh karena itu, Dia menyebutkan hukum jaza’i terhadap hukum-hukum syar’i-Nya, firman-Nya, “Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki,” yaitu orang yang mengerjakan perintah Allah. Firman-Nya, “dan akan mengazab siapa yang Dia kehendaki,” yaitu orang yang meremehkan perintah Allah.

, , , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *