Tafsir Surah Al Muddatstsir Ayat 1-25

Al Haafizh Ibnu Katsir berkata dalam kitab tafsirnya, “Jabir bin Abdullah menyelisihi Jumhur (mayoritas ulama) pada perkataannya, “Sesungguhnya surah yang pertama kali turun adalah Al Muddatstsir.” Jumhur berpendapat, bahwa surah yang pertama kali turun dari Al Qur’an adalah surah Iqra’ (Al ‘Alaq).” Selanjutnya Ibnu Katsir menyebutkan hadits yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim ia berkata, “Imam Muslim meriwayatkan dari jalan ‘Uqail dari Ibnu Syihab dari Abu Salamah ia berkata: Jabir bin Abdullah memberitahukan kepadaku bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang terputusnya wahyu, Beliau bersabda dalam haditsnya, “Ketika aku berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, lalu aku angkat kepalaku ke arah langit, ternyata ada malaikat yang pernah datang kepadaku di gua Hira’ sedang duduk di atas kursi antara langit dan bumi, aku pun merasa takut terhadapnya sehingga aku jatuh ke tanah, lalu aku pulang ke istriku, maka aku katakan, “Selimutilah aku, selimutilah aku.” Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menurunkan ayat, “Yaa ayyuhal muddatstsir—Qum fa andzir.” Sampai firman-Nya, “Fahjur.” Abu Salamah berkata, “Ar Rujz (perkara keji) adalah berhala-berhala.” Selanjutnya wahyu pun sering datang dan turun berturut-turut.” Ini adalah lafaz Bukhari, dan susunan ini yang mahfuzh dimana hal ini menunjukkan bahwa wahyu telah turun sebelumnya berdasarkan sabda Beliau, “Ternyata ada malaikat yang pernah datang kepadaku di gua Hira.” Yaitu malaikat Jibril ketika datang menemui Beliau membawa firman-Nya, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,– Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.– Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,– Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam–Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Terj. Al ‘Alaq: 1-5) Kemudian terjadilah fatrah (terputusnya wahyu), setelahnya kemudian malaikat turun (kembali).”

[2] Muzzammil dan muddatstsir artinya sama, yaitu berselimut. Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk sungguh-sungguh beribadah baik yang manfaatnya untuk pribadi maupun untuk pribadi dan orang lain (seperti dakwah). Sebelumnya (di surah Al Muzzammil) telah disebutkan perintah kepada Beliau untuk mengerjakan ibadah yang utama untuk pribadi yaitu shalat malam dan bersabar terhadap gangguan kaumnya, dan di di surah ini Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan Beliau untuk melakukan dakwah.

[3] Yakni peringatkanlah penduduk Mekkah dengan neraka jika mereka tidak beriman. Menurut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Al Ushul Ats Tsalaatsah adalah memperingatkan manusia terhadap syirk (agar menjauhinya) dan mengajak kepada tauhid (beribadah hanya kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala).

[4] Yakni agungkanlah Allah dari perbuatan syirk orang-orang musyrik, atau agungkanlah Dia dengan tauhid dan jadikanlah niatmu dalam memberi peringatan adalah mencari keridhaan Allah dan agar manusia mengagungkan-Nya dan beribadah kepada-Nya.

[5] Maksud pakaian di sini bisa semua amal, yaitu dengan membersihkan dan memurnikan amal itu dan melakukannya secara sempurna, serta membersihkannya dari segala yang membatalkan dan mengurangi amal itu baik berupa syirk, nifak, ‘ujub (bangga diri), takabbur (sombong), lalai dsb. yang seorang hamba diperintahkan untuk menjauhinya dalam beribadah kepada-Nya. Bisa juga maksud pakaian di sini adalah pakaian hakiki, yaitu dengan membersihkannya dari najis, dimana membersihkannya termasuk salah satu syarat shalat dan bahwa seseorang diperintahkan membersihkan pakaiannya dari semua najis di setiap waktu, terlebih ketika masuk ke dalam shalat. Jika seseorang diperintahkan membersihkan zhahir (bagian luar), maka diperintahkan pula membersihkan batin dari noda dosa dan maksiat dengan istighfar dan tobat, dan bahwa bersihnya zhahir termasuk penyempurna bersihnya batin.

[6] Ar Rujz di sini bisa maksudnya berhala, sehingga Beliau diperintahkan untuk tetap selalu meninggalkan menyembah berhala. Bisa juga maksud Ar Rujz di sini adalah semua amal dan ucapan yang buruk sehingga Beliau diperintahkan untuk meninggalkan dosa-dosa baik yang kecil maupun besar, yang tampak maupun yang tersembunyi, termasuk pula syirk dan dosa-dosa di bawahnya.

, , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *