Tafsir Surah Al Muddatstsir Ayat 1-25

[7] Yakni janganlah engkau memberikan kepada manusia nikmat agar nikmat yang engkau miliki bertambah banyak, dan engkau merasa bahwa engkau telah berbuat baik kepada mereka atau punya jasa kepada mereka, bahkan berbuat ihsanlah kepada manusia sesuai kemampuanmu dan lupakanlah ihsanmu kepada mereka dan janganlah kamu meminta upahnya kecuali dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan jadikanlah orang yang engkau berikan ihsan dan orang yang selainnya dalam keadaan sama. Ada pula yang mengatakan, bahwa maksudnya adalah janganlah engkau memberikan sesuatu kepada seorang pun dengan maksud agar orang itu membalasmu dengan yang lebih banyak dari yang engkau berikan. sehingga hal ini khusus untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[8] Terhadap menjalankan perintah dan menjauhi larangan, dan haraplah pahala dan keridhaan Allah dengan kesabaranmu itu. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan perintah Tuhannya, segera melakukannya dan memberikan peringatan kepada manusia serta menerangkan kepada mereka semua tuntutan ilahi dengan ayat-ayat yang jelas, Beliau juga mengagungkan Allah Ta’ala dan mengajak manusia untuk mengagungkan-Nya, dan Beliau bersihkan amal Beliau baik yang tampak maupun yang tersembunyi dari semua keburukan serta menjauhi semua yang dapat menjauhikan diri dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala seperti patung dan para penyembahnya, keburukan dan para pelakunya. Beliau memiliki jasa terhadap manusia setelah nikmat Allah tanpa menuntut balasan dan rasa syukur dari mereka, Beliau juga bersabar karena Allah dengan sabar yang sangat sempurna; Beliau sabar dalam menjalankan perintah Allah, sabar dalam menjauhi larangan Allah dan terhadap taqdir Allah yang pedih sehingga Beliau melebihi para rasul ulul ‘azmi yang lain, maka semoga shalawat Allah dan salam dilimpahkan kepadanya.

[9] Yaitu tiupan yang kedua; tiupan dimana manusia bangkit dari kuburnya dan dikumpulkan di padang mahsyar.

[10] Karena banyak penderitaannya. Hal ini menunjukkan bahwa yang demikian mudah bagi orang-orang mukmin.

[11] Ayat ini dan beberapa ayat berikutnya diturunkan mengenai seorang kafir Mekah, pemimpin Quraisy bernama Al Walid bin Mughirah Al Makhzumiy; seorang yang menentang kebenaran dan memerangi Allah dan Rasul-Nya sehingga Allah Subhaanahu wa Ta’aala mencelanya dengan celaan yang berbeda dengan lainnya, dan itulah balasan bagi orang yang menentang kebenaran dan memeranginya; ia memperoleh kehinaan di dunia dan azab di akhirat.

[12] Bisa juga diartikan, biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku ciptakan dia dalam keadaan sendiri, yakni tanpa harta, tanpa keluarga dan tanpa yang lainnya, dimana Aku mengurusnya dan membesarkannya dengan memberikan berbagai kenikmatan, sebagaimana disebutkan nikmat-nikmat itu di ayat selanjutnya.

, , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *